Mitos Hari Raya Saraswati

Posted on

Makna hari raya saraswati itu adalah Sebagai wujud rasa bhakti (pelayanan yang suci), pemujaan terhadap Sumber Segala Ilmu Pengetahuan material maupun spiritual tersebut, diwujudkan atau digambarkan dalam alam pikiran melalui personifikasi Dewi Sarasvati.

Setelah kita mengetahui makna hari raya saraswati, kita patut manjadikannya sebagai penghormatan. Dimana hari raya saraswati ini, personifikasinya adalah dewi saraswati , ada tujuh makna simbolis yang terkandung dariperwujudan dewi yang anggun nan cantik, dengan busana putih bersih, memainkan alat musik (wina/sejenis gitar), memegang kitab pustaka (kropak), aksamala (genitri/tasbih), bunga teratai (kumbaja), didampingi wahana berupa burung merak dan angsa putih (swan).

  1. Penampilan dewi yang cantik dengan busana putih bersih berkilauan, melambangkan ilmu pengetahuuan itu sangat mulia, selalu menarik untuk dipelajari oleh siapapun.
  2. Alat musik gitar (wina) melambangkan unsur mutlak ilmu pengetahuan berasal dari hukum alam yang tercipta melalui melodi alami dan citarasa seni Sang Pencipta.
  3. Kitab suci (kropak) melambangkan tempat tertuangnya berbagai petunjuk ajaran suci sebagai sumber ilmu pengetahuan material maupun spiritual.
  4. Genitri (aksamala/tasbih) melambangkan ilmu pengetahuan bersifat kekal, tidak terbatas, tidak akan ada akhirnya dan habis-habisnya untuk dipelajari.
  5. Bunga Teratai, melambangkan kesucian ilmu pengetahuan yang murni, tidak tercela
  6. Burung Merak, melambangkan sifat ilmu pengetahuan itu memberikan suatu kewibawaan bagi yang telah memahami dan menguasainya
  7. Angsa putih, melambangkan ilmu pengetahuan itu dapat memberikan petunjuk untuk bersikap bijaksana dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk. (tusuda.com)

Sekarang , aku ingin sekali mengulas tentang apakah benar saraswati itu tidak diperkenankan belajar?

Menurut orangtua saya, memang benar saraswati tidak boleh belajar sebelum buku selesai di bantenin(diupakarai). Tapi kalau menurut saya pribadi sih boleh boleh aja , toh ga ada larangan(pikiran modern). Bagaimana menurut yang lain ya?

setelah search om google, berbagai macam jawaban tereka :

1. Saniscara Umanis Watugunung = Sasraswati, hanya melalui proses belajar ilmu itu didapat, bukan dengan membuatkan banten pada buku   saja tanpa pernah mau membuka dan meneguk saripatinya dengan membaca. Jadi tepis anggapan pada hari saraswati tak boleh baca buku(peradah.org)

2. Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi. (hindubatam.com)

3. Kalo didaerah ku ada suatu mitos, entah itu benar atau tidak, bahwa kalo hari raya saraswati itu kita ga boleh belajar, jangankan belajar, baca suatu tulisanpun kagak boleh. Kayaknya sih itu emang mitos, tp ada sedikit benarnya juga, mungkin itu awalnya karena di hari sarawati kita mengumpulkan buku-buku pelajaran untuk dikasi banten, jadi, gimana mau belajar pake buku, wong bukunya masih di upacarain, tp setelah itu kan boleh kalee ya..(profanker.blog.friendster.com)

4. Bahkan, di samping itu ada yang sangat saya sayangkan, yaitu adanya pemikiran keliru pada sebagian masyarakat kita tentang perayaan Saraswati. Pemikiran keliru itu berupa pelarangan oleh para orang tua kepada anak-anaknya untuk membaca (belajar) pada saat perayaan Saraswati. Saya sendiri sering mendengar para orang tua menyatakan larangan itu. Katanya, tidak boleh menyentuh buku, apalagi membaca saat odalan (perayaan) Saraswati. Mereka beranggapan bahwa kalau kita membaca saat perayaan Saraswati, itu akan mengganggu ketenangan Sanghyang Aji Saraswati.(parisada.org)

5.

Kami tidak belajar pada hari itu, karena ada “mitos” di antara para siswa bahwa belajar (mem­baca buku) pada hari Saras­wati tidak diper­bolehkan, atau Sang Dewi akan marah katanya. Tentu ada yang protes, bagaimana bisa saya ber­tam­bah pan­dai jika saya tidak belajar? Dan saya akan ber­kata pada mereka, dan bagaimana bisa kalian pin­tar kalau masih per­caya pada hal itu – sem­bari ter­tawa pergi setelah setidak­nya dapat lung­suran apel.

Diatur dalam tradisi per­ayaan Siwaratri ada satu pan­tangan, kalau dalam per­ayaan lain mung­kin ada pan­tangan seperti laku puasa. Pan­tangan ini adalah:

Nen­ten dados ngamatiang aksara

Ya, tidak boleh membunuh/mematikan aksara. Jadi pan­tangan­nya bukan tidak boleh membaca.

Mematikan aksara secara har­fiah dalam tradisi Bali ber­arti menem­patkan “ulu” / “hulu” (= agar suatu aksara ber­suara vokal “i”) dan “suku” sekaligus pada suatu aksara (= agar suatu aksara ber­suara vokal “u”). Seba­gai contoh:

Tha + “ulu” = akan ter­baca “Thi”;
Tha + “
suku” = akan ter­baca “Thu”; Tapi jika
Tha +” “
ulu” + “suku” = akan men­jadi aksara mati (tidak terbaca).

Demikianlah dalam mem­buat aksara mati (men­jadi tidak ter­baca) dalam tulisan/aksara BaliTidak banyak orang Bali yang tahu ten­tang metode ini sekarang, karena aksara Bali sudah jarang digunakan. Dan saat ini lebih mudah men­coret saja kalau ada tulisan yang salah, seba­gaimana kita lakukan di bangku sekolah, atau meng­gunakan pemutih dan kem­bali menulis ulang. Jika Anda memiliki tetangga atau teman orang Bali, coba tanyakan bagaimana ia meng­oreksi tulisan/aksara Bali yang salah tulis, he he.

itu berbagai jawaban yang saya search , wah mana yang benar yah?bagi saya , saraswati itu yang utama adalah penyucian pada pikiran dan ketulusan pada apa yang masuk dalam pikiran. agar pikiran ga ruwet, ada baiknya kita sembahyang dan memohon sinar suci pada Beliau. semoga di hariraya saraswati ini kita dapat memaknainya dengan penuh sadar  selamat hari raya saraswati umat hindu  belajar lah di dalam kesunguhan !

http://viyatampaksiring.blogspot.com/2012/06/mitos-hari-raya-saraswati-tidak-boleh.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s